Wednesday, May 19, 2010

Surat Kecil Untuk Tuhan (copy & paste)

Haaa.. ini dia tulisan Ruli Amirullah yang aku dapat daripada satu Yahoogroup yang aku sertai. Website beliau under construction. Mohon di-copy-paste ya Mas..

********************************************************************************

SURAT KECIL UNTUK TUHAN

(Diambil dari sebuah judul buku)

Written by : Ruli Amirullah

Huaaaah! Buku ini benar-benar buat aku malu! Gimana gak malu? Sesaat setelah aku mulai membaca, hidungku mulai sibuk menarik ‘air’ agar tidak jatuh keluar. Beberapa saat kemudian, tangan sebelah kananku malah mulai hinggap di mulut, menutup gerkaan bibir yang sudah mulai tak terkendali. Beberapa saat kemudian, mata mulai panas, basah berair. Dan beberapa saat kemudian, daripada tiba-tiba mendadak tangis meledak (dan itu berarti akan banyak mata memandang heran padaku), akupun berhenti membaca. Menarik nafas sebentar, melihat sekeliling…

Buku ini berjudul “SURAT KECIL UNTUK TUHAN” sementara sub judulnya adalah “Perjuangan gadis remaja melawan kanker ganas”. Buku ini ditulis oleh Agnes Davonar. Mau sedikit tentang isinya? Ini dia :

Tuhan ..
Andai aku bisa kembali..
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.
Tuhan ..
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada hal yang sama terjadi padaku, terjadi pada siapapun

Cuplikan itu menjadi sedikit bait dari sebuah tulisan yang ditulis seorang remaja penderita kanker Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak. Sebuah kanker ganas yang menyerang pada bagian wajah seorang gadis remaja bernama Gita Sesa Wanda Cantika.
Umurnya masih 13 tahun saat dokter mengatakan kepada ayahnya bahwa putrinya hanya dapat bertahan selama lima hari bila tidak melakukan operasi segera.

Itu yang tertulis di cover belakang…
This is true story….
Gadis itu divonis hanya mampu bertahan hidup 5 hari! Dan isi buku ini kemudian adalah bagaimana perjuangan ia, ayahnya, seluruh keluarganya, seluruh teman-temannya, dalam menghadapi vonis tersebut. Buku ini tentang perjuangan hidup, tentang tawa dan tangis, tentang berkarya, tentang semangat, tentang harapan dan tentang segala impian, tentang cinta ayah pada anaknya, tentang cinta anak pada ayahnya, tentang cinta Tuhan pada mereka…

Dan tahukan teman? Gadis itu ternyata bisa bertahan selama 3 tahun! Namun selama 3 tahun itu, karena ia selalu merasa bahwa hidupnya akan berakhir besok, maka iapun selalu hidup penuh semangat. Ia begitu menghargai hari yang kini ia lalui, ia juga selalu ingin memberikan yang terbaik pada hari ini. Dan “pada hari ini”-nya, ternyata bisa berlangsung selama 3 tahun…..

Perjuangan mengarungi 3 tahun itulah yang membuatku terharu. Bayangkan, sewaktu ayahnya berdebat (atau tepatnya marah) pada seorang dokter, karena dokter tersebut secara blak-blakan bercerita pada gadis itu, bahwa team dokter sudah angkat tangan tidak mampu menangani penyakit kankernya. Si gadis kecil tersebut, malah berkata “sudahlah ayah, tidak perlu marah pada dokter, mungkin memang sudah takdirku untuk hidup bersama kanker ini, dan aku siap kok. Aku siap hidup bersama kanker ini…”

Atau waktu mereka ke singapura dan berobat di rumah sakit terkenal, mereka diberi tahu bahwa tindakan yang harus diambil adalah dengan mengoperasi separuh wajahnya (yang itu berarti membuatnya menjadi kehilangan bentuk wajah), maka sang ayah tidak rela. Ia tidak rela jika wajah anaknya harus cacat tak berbentuk. Namun apa ucapan sang anak? “Aku rela, aku rela mukaku cacat asalkan hal itu bisa membuatku lebih lama lagi berada di sisi ayah…”

……..….

Kebesaran, kedewasaan dan kebijakan gadis itu juga ditunjukkan saat ia, dengan berat hati, terpaksa memutuskan pacarnya karena ia tidak mau melihat kekasihnya semakin sedih melihat ia sakit, ia tidak mau kekasihnya menghabiskan waktu bersamanya. Ia merasa hidup kekasihnya masih panjang, sementara hidupnya sudah begitu pendek. Sehingga, (justru karena ia begitu mencintai kekasihnya) ia harus memutuskan hubungan mereka…

…………

Dan bagian paling sedih dalam buku ini adalah ketika ia bersusah payah berjuang untuk tetap belajar, tetap mengikuti ujian di sekolahnya, walau dengan merangkak sekalipun (karena ketika kankernya menyebar, kakinya pun tiba-tiba lumpuh. Tapi ia tertawa pada ayahnya dan berkata bahwa ia merangkak karena ingin seperti mino, kucing kesayangnya). Begitu beratnya hingga akhirnya ia meminta supirnya untuk menuliskan jawaban sementara ia mendikte jawabannya…

… Aku tidak tahu, ketika buku mulai bercerita detik-detik terakhir menjelang ia wafat, adalah hal paling sedih atau justru paling membahagiakan. Karena aku membacanya sambil menangis sekaligus tersenyum. Sedih sekaligus lega. Guncang sekaligus tenang. Hilang sekaligus Abadi…

Entahlah…
Aku rasa saat ia wafat mungkin jadi happy ending yang indah pada buku ini (walau disaat bersamaan aku benar-benar merasa ingin meledak dibagian ini)

Tapi yang jelas, selesai membaca buku ini, aku menjadi malu pada diri sendiri. Karena aku mendapatkan, persamaan maupun perbedaan antara orang yang terkena penyakit kanker dengan aku yang sehat. Persamaannya adalah, aku dan mereka (para penderita kanker) akan sama-sama mati dalam waktu yang tak pernah bisa kita perkirakan. Kapan saja, setiap saat, dimana saja…

Bedanya adalah..
Mereka menyadari mereka akan mati, sementara aku tidak…

Mereka sadar mereka akan mati (mungkin esoknya, mungkin lusanya), karena itulah mereka kemudian selalu berbuat yang terbaik pada hari itu. Tahukah teman? Gadis itu berhasil meraih ranking 3! Mengapa? Karena ia benar-benar ingin berbuat yang terbaik di kelas.. ia tahu, belum tentu ia bisa mengikuti ujian pada tahun depan. Maka ia ingin mengakhiri tahunnya di kelasnya dengan menjadi yang terbaik. Begitu pula dengan sholat dan ngajinya, ia yang awalnya masih belum lancar mengaji, menjadi berusaha giat belajar ngaji…

Sementara aku? Aku yang merasa sehat wal afiat ini, justru asik bersenang-senang. Aku merasa akhir hidup masih lama. Andai aku hari ini melewatkan amal, menunda sholat, malas ngaji, tidak berkarya, maka aku santai saja karena merasa bisa menyelesaikan itu semua besok. Selalu masih ada besok di pikiranku. Dan karena itulah aku terus menunda apa yang bisa kulakukan hari ini. Bagiku yang sehat, selalu ada esok, esok dan esok..

Padahal, bukankah sebenarnya kematian bisa datang kapan saja dan dengan mendadak? Kecelakaan, musibah, serangan jantung? Bukankah itu semua tidak menunggu hari esok?

Mereka para penderita kanker, selalu ingat akan kematian. Sementara aku tidak…
Jika itu kenyataannya, maka siapakah sebenarnya manusia yang beruntung? Mereka atau aku?

Ya Rabb..
Ingatkan aku akan pertemuan denganMU…
Agar aku tak lagi mensia-siakan waktu..
Agar aku tak lagi menjadi manusia yang merugi..
Agar kemudian aku menjadi manusia yang beruntung…
Aamiin…..

***********************************************************************
Copy-paste tamat.

No comments: